Thursday, November 27, 2014



Image courtesy of merdeka.com

Pada mulanya, upacara metulak dipimpin oleh kepala desa (datu). Ia akan dibantu oleh penowaq (orang yang dituakan), keliang (pembantu kepala desa)kyai, petabah (kelompok pembaca lontar), belian (dukun), dan pemangku. Namun sekarang, metulak dipimpin oleh seorang ustadz atau ulama.

Masing-masing pelaku metulak memiliki tugas dan kewajiban tersendiri. Penowaq bertugas mengundang roh leluhur dan Dewi Anjani (pemimpin jin di Gunung Rinjani). Penowaq umumnya dibantu oleh perempuan-perempuan tua yang tidak haid lagi (menopause) dan nyai (istri kyai). Keliang bertugas membantu kepala desa. Sedangkan kyai bertugas memimpin doa.

Metulak dihadiri oleh anggota keluarga, kerabat, dan warga desa. Saat menghadiri upacara, warga biasanya akan membawa botol kosong dan uang sholawat minimal sembilan kepeng (kepeng merupakan mata uang yang hanya dipergunakan sebagai syarat sebuah ritual, bukan alat tukar sebagaimana mata uang pada umumnya). Botol itu nantinya akan diisi air yang telah didoakan oleh belian. Air tersebut akan diminumkan kepada anggota keluarga yang sakit dan berfungsi sebagai obat serta tolak bala. 
Source: http://www.kaskus.co.id/thread/546e83a60e8b46e501000002/?ref=homelanding&med=hot_thread

0 comments:

Post a Comment