Friday, November 28, 2014

PERSIAPAN

Persiapan dikerjakan pada hari pertama rangkaian upacara. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap persiapan antara lain:

Musyawarahyang dilakukan pada hari pertama (jelo alit). Musyawarah diadakan di rumah kepala desa atau salah satu pemuka masyarakat yang dihadiri oleh para pemuka masyarakat, kepala desa, pemangku adat, dan kiai. Musyawarah bertujuan untuk memutuskan beberapa hal penting, seperti tempat upacara, waktu, dan proses penyelenggaraan upacara.
Pembuatan saweq di setiap rumah tangga
Mendirikan terop dari bambu dan anyaman daun kelapa (kelansah)
Membuat das, yaitu pondok kecil dari kayu beratap ilalang tanpa dinding, sedangkan lantai terbuat dari bilah bambu yang dianyam dengan ijuk atau rotan.
Mendirikan tempayan yang ditutup kelambu dan diberi langit-langit
Penjemputan tombak (mereka menyebutnya tombak Jogja). Tombak dijemput oleh dua orang berpakaian adat
Menyiapkan lima panginang, yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah, dan sembeq.
Pembacaan lontar hikayat Nabi Yusuf 
Memasak gulai ayam 
Menggelar tarung peresean

Mencari beragam jenis tumbuhan sebagai hiasan tempayan, seperti tumbuhan nagasari, tandan uwar, atau injan bote. Tumbuhan tersebut tidak mudah ditemukan. Oleh karena itu, tumbuhan terkadang dicari hingga harus masuk hutan atau ke desa lain


PELAKSANAAN

Upacara adat metulak dimulai setelah semua persiapan telah selesai (biasanya selesai menjelang Sholat Isya). Acara pertama adalah pembacaan barzanji atau disebut syarakalan oleh orang Lombok. Pembacaan barzanji dilakukan bergantian oleh setiap jamaah dipimpin oleh kyai dan pemangku. Prosesi ini memerlukan waktu yang lama karena jumlah syair yang dibacakan dalam barzanji mencapai ratusan,

Selama pembacaan barzanji berlangsung, berbagai makanan tradisional Lombok terus disuguhkan. Orang Sasak menyebut penyuguhan makanan ini dengan istilah metun menaek (menurunkan dan menaikkan). Makanan yang disuguhkan mengandung simbol tertentu, misalnya, tape (poteng) merupakan simbol daging manusia, tebu simbol tulang, sumping simbol sum-sum, jongkong simbol isi dalam tubuh, tombek simbol isi dalam tubuh, ketupat dan tekel simbol pria dan wanita, dan rowut simbol kehidupan

Seusai pembacaan barzanji dilanjutkan pembacaan kisah (cakepan) Nabi Yusuf yang masih tertulis dalam lontar. Pembacaan dilakukan oleh petabah (kelompok pembaca). Petabah terdiri dari kyai, pemangku, dan beberapa orang jamaah. Lazimnya, kyai yang membaca lalu pemangku menerjemahkannya, namun terkadang juga sebaliknya. Dalam bahasa Sasak, penerjemah lontar disebut pembayun.

Acara ini berlangsung hingga pertengahan malam, bahkan subuh. Pembacaan dilakukan dengan alat penerangan tradisional, yakni lampu biji jarak atau minyak kelapa. Alat kelengkapan lainya adalah penginang tulis, air bunga, dan serabi. Semua peralatan tersebut diletakkan di dekat lontar.

Pada saat pembacaan mencapai sembilan bait (timpak), bacaan dihentikan sejenak untuk diselingi membuka serabi. Serabi dibuka oleh kyai atau pemangku, dicampur santan, digarami, lalu dicicipi sebanyak tiga kali oleh kyai atau pemangku. Pada tiap akhir bait ketika bercerita tentang Nabi Yusuf dimasukkan ke sumur oleh saudaranya, lontar dibasuh dengan air. Air tersebut nantinya akan dibagikan kepada petani untuk ditebarkan ke sawah sebagai penolak bala. Setelah itu, serabi ditutup dan didoakan, lalu dilanjutkan membaca cakepan lagi.

Setelah cakepan, prosesi selanjutnya adalah pembacaan doa rowah yang dipimpin oleh kyai. Seusai berdoa, semua hadirin makan bersama. Sebelum mulai makan bersama, di depan kyai diatur alat-alat seperti dolang, panginag rowah, bunga celupan lampu biji jarak, dan kemenyan.



PENUTUP

Acara terakhir dari metulak adalah doa yang dipimpin oleh kyai. Doa yang dibaca antara lain adalah doa kubur dan doa selamat. Selain kedua doa tersebut, kyai juga memimpin untuk membaca Surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali, Al Fatihah, dan bagian awal surat Al Baqarah. Dalam prosesi ini, para jamaah juga melantunkan dzikir dengan mengucap la ilaha illallah sebanyak seratus kali.

Usai berdoa dan makan, pemangku mencampurkan air selao dengan air bunga celupan lampu jarak. Air lalu dibagikan kepada petani yang membutuhkan. Setelah mendapat air, para petani akan langsung ke sawah untuk menyiramkan air tersebut ke sawah mereka. Sebagian mereka siramkan ke sekitar rumah, kandang, dan lingkungan mereka. Mereka berharap air itu dapat menolak segala penyakit yang datang. Pembagian air menandai selesainya upacara metulak.

Pada keesokan hari diadakan permainan peresean, yakni adu pukul antara dua orang menggunakan sebilah rotan. Masing-masing dibekali tameng dari kulit kambing atau rajutan rotan. Peresean pada awalnya merupakan permainan semata, namun pada perkembangan kemudian bergeser menjadi ajang uji keberanian dan kekuatan jimat (bebadong). Peresean berlangsung hingga dari pagi hingga sore hari.

Source: http://www.kaskus.co.id/thread/546e83a60e8b46e501000002/?ref=homelanding&med=hot_thread

0 comments:

Post a Comment