Wednesday, November 5, 2014

Pak Andi Back recolor Jalan Sepeda 1
(Tempos, 8 April 2013Apalagi yang bisa ku ucapkan selain rasa syukur!
“Pegunungan rimbun hijau menjulang, sawah dipenuhi padi menguning, saluran irigasi dialiri air jernih terhisap akar sayuran, kabut asap dari jerami kering tak henti mengepul menghias sore, lambaian nyiur menyambut tiupan angin sepoi dari arah barat, burung bangau girang menyeret mangsa, beberapa kawanan nampak riang bersahutan. Pemandangan asri di lereng perbukitan pinggaran kota, dimana kawanan sapi, kerbau dan binatang ternak lainnya di arak penggembala cilik tanpa pecut. Seekor bangau putihpun hinggap meninggalkan kawanan yang lain, seolah ketakutan dibidik lensa kamera.
Desa Tempos di Lereng Gunung Sasak_by Sukre
Sawah Tempos di Lereng Gunung Sasak_by Sukre
Foto: Persawahan Tempos_Sukre
Foto: Jalan Tempos_ by Sukre
Hey Lihat!! Tiang listrik penyangga kabel berjejer menghias aspalt Buton tanpa pembatas,  mataku tak sedikitpun berkedip dengan pesona yang biasa kutemukan pada lukisan panorama, hiasan dinding rumah itu. Teringat pelajaran biologi, ketika klorofil hijau tua dihasilkan dari proses fotosintesa sempurna dan simbiosis mutualisme yang selalu keluar menjadi soal andalan Pak Saleh ketika duduk di bangku SMP dulu. Begitu pula pelajaran seni lukis bermodalkan pensil hitam dan penghapus karet mengembalikan ingatan akan nilai 9 pada raport kelulusan, hasil menggambar. Merasakan berada di desa Sukamaju, sebagai desa idaman yang sering menjadi ilustrasi membaca ketika mengenyam bangku sekolah dasar, berharap bertemu Pak Tani, Ibu Budi, Ali dan Ani yang kerap disebut sebagai penduduk inti desa itu. Atau si Unyil dan si Uncrit tengah bermain petak umpet, berselempang sarung kotak-kotak, mengenakan peci hitam, serta si botak Pak Ogah, si kumis Pak Raden dan si penjual rujak petis, Bu Bariah, ramai – ramai datang menghampiri, melepas senyum ramah sembari mengucapkan “selamat datang di desa kami, tuan-tuan”
Penulis tidak sedang berkhayal!!
Kampung Lobar
Desa Tempos dari balik Gunung Sasak_by Sukre
Kali ini saya tengah menyusuri desa-desa asri di pinggiran Kota Giri Menang, yang lokasinya dekat dengan pusat kota, hanya berjarak sekitar 2 km dari pusat administrasi Pemkab Lombok Barat, namun jauh dari pencemaran, yakni Desa Tempos dan Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung. Seolah tak peduli dengan megahnya arsitektur pembangunanLandmark di Daswati, kedua desa tersebut tetap tampil cantik apa adanya, tanpa polesan bedak merkuri, lengkap dengan segudang potensinya.
 Potensi Desa dalam Angka
  1. 1.      Desa Tempos
Mesin Panen Edit
Dengan kondisi alam yang di pagari barisan perbukitan tepatnya di lereng Gunung Sasak, Desa tempos memiliki luas wilayah sekitar 4,10 km2 dan di diami oleh 3.940 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 961 per km(Sumber: BPS Lombok Barat 2011). Mata pencaharian penduduk sebagian besar bersumber dari pertanian dan perternakan dengan hasil produksifitas yang selalu meningkat tiap tahunnya, seperti padi, ubi kayu, jagung, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai, dengan rincian luas lahan dan hasil produksi pertahun sebagai berikut;


Total produksifitas 1.650 ton Padi per tahun dihasilkan dari luas lahan sawah 223 ha, jagung dengan luas lahan 53 ha menghasilkan 176 ton pertahun, ubi kayu luas lahan 7 ha 

menghasilkan 110 ton pertahun, ubi jalar luas lahan 4 ha menghasilkan 55 ton per tahun, kacang tahan luas lahan 39 ha menghasilkan 50 ton per tahun, dan luas lahan kedelai 45 ha menghasilkan 70 ton per tahun. Sedangkan di bidang peternakan terdapat 1700 ekor sapi, 500 ekor kambing, 200 ekor kerbau dan 50 ekor kuda. (Sumber: Dinas Pertanian Lombok Barat tahun 2011)

Nyangkul
JADI2

  1. 2.      Desa Banyu Urip
Ngerampek Jalan 2
Jika desa Tempos berada di lereng Gunung Sasak, maka Desa Banyu Urip juga berada di lereng gunung yakni Gunung Mareje. Dengan wilayah tiga kali lebih luas dari desa Tempos yakni 13,05 km2, desa ini di diami oleh 9.141 jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 700,46 per km2 (BPS: Lombok Barat 2011). Begitu pula potensi Desa Banyu Urip di sektor pertanian dan peternakan dengan hasil produksi yang jauh lebih tinggi, membuat desa ini menjadi lumbung padi di Kabupaten Lombok Barat.

Dari luas wilayah yang ada, 742 ha diantaranya di tanami padi dengan hasil produksifitas mencapai 4000 ton per tahun. Begitu pula dengan produksifitas tanaman pertanian lainnya seperti Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar, kacang tanah dan ka
Kabut 2
cang kedelai selalu menunjukkan trend postif yakni dengan rincian: jagung dengan luas lahan 197 ha menghasilkan 648 ton pertahun, ubi kayu luas lahan 14 ha menghasilkan 225 ton pertahun, ubi jalar luas lahan 8 ha menghasilkan 115 ton per tahun, kacang tahan luas lahan 140 ha menghasilkan 180 ton per tahun, dan luas lahan kedelai 155 ha menghasilkan 200 ton per tahun. Sedangkan di bidang peternakan terdapat 2.150 ekor sapi, 1100 ekor kerbau, 500 ekor kambing, dan 400 ekor kuda. (Dinas Pertanian Lombok Barat: 2011).
Menyitir status Facebook Om Darwis Tere Liye, sedikit menyentil para rumahan: “Banguuun, coy!!
“Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah-lembah luas, lereng-lereng gunung, datangilah padang-padang rumput, padang pasir. Lihatlah kota-kota gemerlap, desa desa damai.
Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto-foto keren di tanah orang. Diatas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’
Jangan habiskan waktu di jendela rumah, kantor, kendaraan yang sama setiap hari. Apalagi jangan habiskan waktu di jendela HP, laptop, gadget saja. Perjalanan menunggu di luar sana” 
Oke, Here we go!!
Pembajak 2
Dari gambaran angka produksi diatas, maka Desa Tempos dan Desa Banyu Urip merupakan desa subur di Kabupaten Lombok Barat. Sehingga investasi di bidang pertanian dan peternakan selalu menjanjikan. Selain potensi unggulan di kedua sektor, berkah dari keindahan bentangan alamnya, dipagari dua gunung dengan lereng yang subur. Maka, kedua desa tersebut juga memiliki pesona sebagai desa wisata diantaranya:
  1. 1.      Lintasan Sepeda Santai
Coutry road
Dengan panorama nuansa alam pedesaan dan himpitan dua gunung yang menjulang yakni, Gunung Sasak dan Gunung Mareje, maka Desa Tempos dan Desa Banyu Urip sangat memikat untuk di jadikan pilihan anda mengayuh sepeda, berolah raga sambil
Out For Spiderweb Rotatevr
menghirup udara segar. Di sepanjang jalan hotmix 15 km, konsentrasi anda akan terpecahkan oleh berbagai pesona yang dapat anda saksikan, Puncak Gunung Batur di Bali dan Puncak Gunung Rinjani di Daratan timur Pulau Lombok pun ikut hadir menjadi penghias galeri alam semesta. Begitu pula puncak Gunung Mareje, di payungi kabut pagi menjelang matahari naik sepenggalah dan lerengnya dipenuhi persawahan subur semi terasering, membentang luas dengan sistem pertanian tumpang sari, menjadi khas kawasan itu. Sungai yang mengaliri air jernih dari waduk di daerah hulu menjadi saluran irigasi modern, menjamin ketersediaan air di kawasan tersebut. Puluhan petani yang keluar memenuhi petakan-petakan persawahan, dengan perbekalan seadanya tak henti menyapa. Jalan mulus  berkelok dan lurus, minim dilalui mesin solar dan bensin. Kereta kuda nampak bebas berpapasan tanpa macet dan bebas asap. Tiang listrik menjulang sepanjang jalan, menuntun anda sampai ujung lintasan.
Cidomo Load
Untuk mencapai jalur sepeda ini sangat mudah, anda bisa start di desa Tempos tepatnya di jalan Pusat Administrasi Giri Menang-Gerung (Taman Kota Lombok Barat) dan finish di desa Banyu Urip tepatnya di desa Jembatan Gantung Kecamatan Lembar, ataupun sebaliknya. Selamat ber-gowesbersama keluarga dan handaitaulan !!
  1. 2.      Sawah Semi Terasering-Tumpang Sari
Kertbau 1
Dengan kondisi alam yakni lahan pertanian yang berada di areal lereng perbukitan, praktis areal persawahan di desa Tempos dan Banyu Urip terlihat berundak-undak atau yang lebih akrab di sebut terasering, seperti persawahan yang ada di Bali. Tetapi perbedaanya terletak pada luas petakan, dimana persawahan terasering di desa ini memiliki petakan lebih luas dibanding sawah terasering di pulau Bali. Ditambah lagi pematang yang rimbun dengan berbagai tanaman sayuran.

Hampir seluruh areal persawahan di desa Tempos dan Banyu Urip di tanami dengan sistem tumpang sari, yakni memadukan beberapa jenis tanaman dalam satu lahan. Contohnya, ketika musim padi, pematang di tanami dengan tanaman pisang dan tanaman sayur seperti kacang panjang, kacang komak, terong, kecipir dan lebui. Atau beberapa petak sawah di semai dengan bibit ikan, sehingga dengan sistem pertanian Tumpang Sari, akan mampu menghasil

produksi pertanian dengan kulitas dan kuantitas yang lebih beragam.
  1. 3.      Taman Gunung Sasak dan Gunung Mareje
Warga Lombok boleh berbangga, ketika mendunia pada tahun 2008, dengan Taman Nasional Gunung Rinjani, masuk tiga besar menjadi finalis “Tourist for Tourism Award” , untuk kategori “Destination Award”, yang diselenggerakan oleh “World Tourist and Tourism Council” (WTC) yang bermarkas di London, Inggris. Demikian pula sebelumnya, pada tahun 2004 menerima penghargaan dunia berupa “World Legacy Award” dari “National Geographic” sebagai daerah wisata yang berhasil mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata. Sehingga membuat luput perhatian masyarakat akan keberadaan gunung-gunung lain. Padahal lebih dari 100 gunung dengan potensinya, membentang di pulau ini, seperti Gunung Sasak dan Gunung Mareje di Lombok Barat. Kita jarang mendengar kisah/ceritra pendakian kedua gunung yang lokasinya saling berhadapan itu, memagari desa Tempos dan Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung. Namun, Sejatinya dimana ada gunung di situlah kegiatan pendakian berlangsung.

Gunung Sasak
Gang 1

bukti lombok itu pulau seribu masjid

Gunung yang memiliki nama sesuai dengan nama suku asli yang mendiami pulau Lombok ini, memiliki ketinggian 370 mdpl. Berada di Kecamatan Kuripan – Gerung Kabupaten Lombok Barat dan sebagian kakinya menginjak Kabupten Lombok Tengah, dikelilingi hamparann sawah yang sangat subur dengan lereng di penuhi tumbuhan perdu dan bambu kuning. Gunung sasak menjadi salah satu potensi wisata yang lokasinya tak berjarak dari pusat kota Giri Menang-Gerung, walaupun baru 1 lesehan yang selalu buka sebagai pendukung akses wisata pintu pendakian.
Beberapa jalur yang bisa anda lalui, yakni melalui jalur Kuripan di Kabupaten Lombok Barat dan jalur Sulin di Kabupaten Lombok Tengah. Dengan waktu tempuh sekitar 1 sampai dengan 2 jam melalui jalan rabat berkerikil seluas 2 meter akan membawa anda sampai di puncak. Dengan akses jalan yang cukup memungkinkan, tidak jarang warga yang hendak menuju puncak gunung memakai kendaraan roda dua atau roda empat. Jalur – jalur pendakian itu kerap di lalui oleh pelajar atau pendaki pemula untuk sekedar latihan fisik dan sightseeing.
Dari puncak gunung, anda akan menikmati view Pulau seribu masjid dengan bentangan persawahan, Kota Giri Menang, Pelabuhan Lembar, Kota Mataram, hingga pantai-pantai eksotis di kawasan Senggigi dapat anda saksikan dari kejauhan persis di bawah pohon rindang,  pemandangan yang memberi terapi pada mata rabun menjadi normal kembali, angin sepoi khas ketinggian menghisap habis keringat dan peluh, dimana tegukan air begitu nikmat menerobos masuk kerongkongan.
Gunung sasak tidak luput dari segudang mitos dan cerita mistis hingga seringkali dipakai sebagai tempat persemedian bagi para pendekar pada zaman kerjaan dulu. Kini hanya tersisa pura persembahyangan bagi umat hindu yang mendiami lereng gunung, Warga hindu Lombok Barat sering melakukan persembahyangan di pura Gunung Sasak pada tiap purnama. Mereka percaya bahwa tempat itu merupakan tempat bersemayamnya Dewa Kesuburan, sehingga ramai dikunjungi menjelang musim tanam sampai musim panen tiba, tiap tahunnya.
Beberapa tahun terakhir peristiwa pembalakan liar, kebakaran hutan, dan perusakan lahan tak terurus kerap menerpa hingga berpengaruh terhadap menghilangnya titik-titik, sumber air di kawasan gunung, maka Pemerintah Daerah setempat di dukung ribuan siswa sekolah menengah melakukan penghijauan bersama, penanaman kembali (Reboesasi) hutan kawasan Gunung Sasak secara besar-besaran, yang mendapat apresiasi Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2012. Tanaman-tanaman perdu seperti Sengon, Mahoni, Jati, dan Trembesi memenuhi kawasan, namun masih terlihat compang camping di areal puncak.

Gunung Mareje
Rumah damai 2
Tidak banyak yang tahu tentang kisah pendakian gunung yang berada pada ketinggian 716 mdpl ini. Mareje menjulang dengan rangkaian yang cukup panjang yakni mulai dari kaki sebelah timur di Desa Ranggagata Kabupaten Lombok Tengah, hingga kaki sebelah barat mencapai Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Namun sebagian besar badan gunung memagari desa Banyu Urip Kecamatan Gerung. Sehingga start pendakian yang paling memungkinkan yakni melalui desa tersebut.

Akses jalan untuk mencapai perkampungan dan areal pertanian daerah atas  Mareje 
Sungai 1
sudah mulai rusak dan sulit dilalui kendaraan. Namun bentangan sabana menjadi surga bagi sapi, kuda, kerbau dan binatang ternak yang lain. Sama halnya dengan Gunung Sasak, dari balik punggung sabana Mareje, pesona seribu masjid, bentangan persawahan, pantai-pantai eksotis di wilayah sekotong dan sibuknya lalu lalang penyebrangan di Pelabuhan Lembar, dapat anda saksikan dari kejauhan.
Gunung Mareje nampak indah dari kejauhan dengan pepohonan rimbun dan selalu di payungi awan tebal di pagi hari, namun menjelang siang awan tersebut perlahan menghilang. Di tengah keindahan dan pesona Mareje, para penduduk yang mendiami kawasan lereng merasa khawatir dengan kondisi yang ada. Pasalnya, tekstur tanah yang telah mulai berubah, seiring banyak petani yang membuka lahan pertanian tanpa kontrol di hulu mareje, kerap mengorbankan pohon-pohon besar yang berfungsi proteksi/pelindung. Dengan kondisi ini, maka sumber-sumber air mulai surut, dan ketika musim hujan tiba bahaya longsor selalu menghantui. Meski penanaman 3000 pohon jati putih telah dilakukan pada tahun 2012 lalu, namun belum memperlihatkan hasil yang signifikan, karena penanaman hanya sebatas pinggir jalan menuju lereng Mareje, belum mencapai puncak terkendala bibit dan atensi masyarakat.

Selamat menyusuri Lombok Barat_Let’s save Mareje and Sasak Mountain!!
Penghijauan akan menyelamatkan Dua Cerminan Desa Sukamaju
di Lereng Mareje dan Sasak di Lombok Barat, NTB
sebagai Lumbung Padi, Sumber Pangan dan segudang Potensi Lainnya
Kalau bukan kita siapa lagi??
Kalau tidak sekarang kapan lagi??

Source:
http://lombokexploring.wordpress.com/2013/04/24/desa-sukamaju-ala-lombok-barat-desa-tempos-di-lereng-gunung-sasak-dan-desa-banyu-urip-di-lereng-mareje/
Email: andimahardani@yahoo.com troyadharmawangsa@gmail.com
ekspedisi.lombokbarat@gmail.com

1 comments:

Post a Comment